Memey, malam ini aku masih menulis tentangmu dalam sajak
Memey, malam ini aku mengenangmu.
bukan karena duka.
Tapi entah, aku pun tak tahu apa yang kurasakan?
Aku berfantasi menggambar daksamu di otak
dan menuliskannya ke hati.
Serupa malam yang dihadiahi semilir bayu.
Seperti pagi yang dikerlingi fajar kehidupan dari dahi bebukitan.
Memey, aku masih menemukan putih wajahmu menyelimuti mataku.
Memey, aku lihat kau masih acap menikmati kebasahan.
Tapi aku tahu kau selalu membungkusnya dengan lembut hijaumu.
Maka, jadikanlah aku ular
yang menjaga padang rumputmu dari tikus-tikus bergigi iblis.
Membiasmu lewat suara-suara derikku
dan kau pun bisa tersenyum menari bebas di atas indah padang hijaumu sendiri.
Memey, malam ini aku mengenangmu.
bukan karena duka.
Tapi entah, aku pun tak tahu apa yang kurasakan?
Aku berfantasi menggambar daksamu di otak
dan menuliskannya ke hati.
Serupa malam yang dihadiahi semilir bayu.
Seperti pagi yang dikerlingi fajar kehidupan dari dahi bebukitan.
Memey, aku masih menemukan putih wajahmu menyelimuti mataku.
Memey, aku lihat kau masih acap menikmati kebasahan.
Tapi aku tahu kau selalu membungkusnya dengan lembut hijaumu.
Maka, jadikanlah aku ular
yang menjaga padang rumputmu dari tikus-tikus bergigi iblis.
Membiasmu lewat suara-suara derikku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar