Duh Gusti, damai sekali. Ditambah lagi gemericik suara sungai yang membentang sepanjang pinggiran jalan, seraya melantunkan sebuah lagu hening ;Menghadiahkan riang dihati yang terlanjur pekat.
Perihal kebasahan dibatin, tak ubahnya aku mengingatmu kembali.
Perempuanku, sedang apa kau? Apakah sedang meratapi rerintik berjatuhan di beranda rumahmu, atau bahkan bermain hujan malam-malam begini.
Sudahlah, hujan juga berhak untuk menyudahi kebasahan, aku harap kau tak terlalu larut menikmati hujan.
Aku takut, dinginnya semakin membuatmu dalam merasakan kebasahan. Tapi tenang, aku lelaki yang pintar, aku masih bisa menghadiahkan rembulan sebagai pengganti pelangi, teruntukmu.
Perempuanku, segeralah beranjak dari genangan air hujan yang membuat kulit cantikmu putih memucat, lantangkan kakimu disebuah pijakan yang bersemi. Tanpa hujan, tanpa dingin, hanya ada aku dan kamu menikmati hangat rembulan baswara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar