Rabu, 16 Mei 2012 - 0 komentar

8 September 2011 (Tentang Malam Yang Di Hadiahkan Memey)

         Kali ini nampak rembulan yang mengeluarkan sinar putih sempurna dilangit hitam. Memang malam ini terasa sunyi tanpa adanya bebintang dan bayu malam yang biasa temani memalamku. Ah sial... saat-saat seperti inilah yang membuat pikiranku mengenang seseorang . Seseorang yang belum tentu mengenangku. Selalu, tiap tentangnya menghantui asmaraku yang tak berkesudahan ini. Ia memang wanita hebat, bisa membuat hatiku berlayar pada suatu yang indah nan pesona. Tapi kenapa aku tak bisa menjamahnya? serupa fatamorgana. Dan jika boleh meminta, harusnya aku tak pernah bertemu dengan dia. Sebab auraku meredup atas tulus perasaan ini. Dimatanya mungkin aku lelaki biasa yang aneh, tapi dimataku dia adalah sosok wanita berambut panjang yang wajahnya bersinar fajar surgawi, sehingga aku ingin membelai rambut indah itu.
Malam telah usai dan berajak pagi. Mataku masih menganga rasa kantuk belum berbisik. Dan sepertinya aku terbius oleh pagi yang membuat bayangan dia masuk ke ubun-ubun :merangsang memori lalu, menumpah menjadi tulisan.



                        Tuhan memang Agung. Menitiskan sebuah rasa cintaku untuknya. " Tapi aku juga ingin dicintai oleh wanita yang begitu tulus ku cintai". Benar, aku memang seorang penyair yang belum pernah merasakan hal itu. Walaupun sebenarnya ada wanita yang mencintaiku. Tapi, sayang perasaan yang sama tak pernah mengalir di hatiku. Maaf, aku memang lelaki yang tak mudah mencintai kaum hawa. Setahu hatiku, terakhir kali aku mencintai  seorang wanita lembut berparas duhai. Wanita itu memey, dia wanita yang aku maksud di alinea pertama. Mencintainya termasuk anugerah Tuhan yang maha dahsyat. Hati bak serasa melayang layaknya merpati putih yang terbang mencari pasangannya  di musim kawin.
          Aku sudah gila karena cintaku sendiri. Cinta yang di munadzatkan hanya untuk satu wanita (meme). Dan malam ini aku bercita. Suatu saat nanti entah itu kapan, Bila Tuhan berkehendak. Aku ingin di setiap malamku tak hanya di temani bulan, bintang, bayu malam dan sebatang rokok yang membara tapi juga disampingku, keberadaan dia menemani serta  menjadi selimut sebagai penghangat memalamku.








0 komentar:

Posting Komentar