Senin, 07 Mei 2012 - 0 komentar

Menjemputmu Di Februari

Aku akan menjemputmu di Bulan Februari nanti. Ketika semi menuai dua hati bertali yang di pertemukan. Mengibasmu dengan parade-parade rindu yang lama ku kandung.
Tak sejumput ragu bergeming, jikala takut terlantar pada gerbang-gerbang tinggi kepercayaan.
Barang kali masih tersisa aroma mawar kuning di berandamu,
bolehkah aku menggantinya dengan sepasang bunga tulip?
Lalu, kuletakkan pada kolam penuh berisi tangis lalumu. Dan kita duduk berdua memandang harap membiarkan liar tulip itu mekar baswara
:menghisap habis tangis lalu dengan senandungnya.
Duhai wanita terayu.
Di lambung kisah kita masih berputar segelumit kenangan manis. Meski aku tahu setan-setan kecil berusaha mengemas binal semua.
Tenang. Tenang sayang, aku masih pintar dan juga lelaki yang tetap tulus mencintaimu.
Maka kan kujaga kenangan itu sampai nanti kisah baru akan hadir menghias.


Aku akan menjemputmu di Bulan Februari nanti. Ketika semi menuai dua hati bertali yang di pertemukan. Sebelum fajar menguntit senjamu.







"Terutuk Cinta Pertamaku.
Puisi ini kukirimkan kepada dia, mantan kekasih (cinta pertamaku di Tahun 2007)
, dengan setangkai mawar juga. Di hari ulang tahunnya 6 Mei ini"
Sidoarjo. 25 Januari 2012
F. Agus Tiono

0 komentar:

Posting Komentar