Apakah aku boleh untuk sekedar menebak-nebak jalan Tuhan, tentang kita berdua?
Masih
saja. segemelincir perasaan sulit untuk diartikan, sanggup membuat
lajur darah ataupun gangguan di saraf-saraf kecil otakku terganggu.
Seorang Gadisku yang kulihat kemarau lalu, mengenakan Rok abu-abu.
Datang serupa kemarau yang berkunjung semi di batin.
Maaf. aku lancang, aku sebut dirimu Gadisku. Sebab aku tak tahu lagi
mesti menyebutmu apa dalam penulisanku. Atau mungkin juga, sebab tak ada
lagi seseorang untuk dipanggil sebagai Gadisku.
Sesekali wajah Ayumu mengeluarkan suara kecil yang sulit
kudengar, tapi aku masih bisa, jika hanya sekedar untuk membaca gerak
gerik bibir tipis itu yang perlahan mnggelayuti imajinasiku.
Apa aku rindu?
Entah aku sendiri tak bisa mejabarkan detail. Hanya saja kau memang
hebat, nampaknya telah berhasil mengguna-gunaiku.
Kulihat belakangan ini senyum kecil dengan dagu indah membelah, acap
kali menghadiahi sekeranjang rindu.
Sudah pernah kubilang kepadamukan, dagu itu indah.
 |
| |
Yang bisa kulihat sekarang hanya sebuah gambar diam yang berbicara di atap-atap kamarku.
"Aku mengagumimu, gadisku."
hanya kalimat itu yang bisa ku akui.
Lantas, apa aku mencintaimu?
Tak menahu. Soal itu aku tak berhak untuk menjawabnya pula.
Lalu begini saja kenapa tidak kau saja, yang menjawabnya?
lebih adil bukan?
Sudahlah sebelumnya memang tak tak ada kiasan apapun
mengganjal di hati untuk di
utarakan. Jadi jangan memaksaku menulis semua ini.
Sepeninggalan jumpa itu
yang kau sisakan hanya berupa dekapan dingin
telapak tangan kita yang saling bersalaman, serta belahan tengah rambut
kesamping yang tak beralur. Entahlah, aku tak mempermasalahkan hal itu.
Yang jelas, kau tampak ayu di kornea rabunku dengan seanggun mungkin
rambut panjangmu.
Namun harusnya aku tak mengenalmu, menjumpaimu dalam pertemuanNYA.
Akupun takut. Bukan, ini bukan rasa takut karena sisa-sisa kenangan
terdahulu.
Melainkan rasa takut yang sebenarnya. Jika kelak aku bisa membawamu
kedalam duniaku tapi kau tidak bisa menjamah, menikmati nuasa keindahan
yang disuguhkan oleh kesederhanaanku. Lalu, kau pun pergi, perlina
melalang buana bersama keindahan-keindahan lain.
Apakah aku boleh, untuk sekedar menebak-nebak jalan tuhan, tentang kita berdua?
Sudahlah kau pun saja belum menjawab semua pertanyaanku, jadi apa masih pantas untukku berharap lebih?
Dari lelaki sederhana yang
selalu mengharapkan pertemuan kedua kita.