Kamis, 20 November 2014 - 1 komentar

Gadis Kecil Ku, Lady Softa Lovakusuma.

Sebelum membaca, dipersilahkan terlebih dahulu untuk membuka link ini http://t.co/ejpl52qSwv

Pada nyatanya, memang betul jadilah aku seorang lelaki yang benar-benar gila karena sebuah album kenangan bersamamu. Dan kamu, mungkin saja telah menemukan album-album baru yang telah menggantikan kenangan kita.
Tiba-tiba saja aku jadi merindukanmu. Sebab Gadis SMA yang diam-diam mengagumiku. Iya dia masih SMA sepertimu dulu ketika kau pernah tertawa sangat ceria dan kita masih setia bersama kemarin. Gadis itu dengan seenaknya saja mengingatkanku padamu. Meski tak keseluruhan sama denganmu. Tak lebih ayu darimu, hanya saja Gadis SMA itu telah menghadiahkan butir-butir ingatan yang berarti rindu. Benar, kamu memang berbeda. Kau, dengan watakmu yang nekat, kau yang dulu masih begitu keras kepalanya dan berani, walaupun dengan perawakan tubuh kecil juga kelembutanmu. Aku suka. Bukan, bukan maksudku untuk membadingkan kamu dengan dia. Aku tahu, kau paling tidak suka untuk dibanding-bandingkan. Sudahlah, sebenarnya aku juga tidak berniat untuk menorehkan dua tokoh utama dalam penulisan ini. Prioritas utama disini adalah menceritakan kau, Gadis kecilku dulu yang masih SMA.


Hai, apa kabar Gadis kecilku? Rupanya terhitung sejak pertengahan 2012, kita tak berjumpa. 

Aku mundur, pada peristiwa dua tahun lebih yang lalu. Waktu itu, aku lebih memilih untuk menyudahi semuanya ketimbang selalu merasa ada raungan nan menjerit tangis, seperti mengiris sesuatu dibalik dadaku.
Pada awalnya semua berjalan begitu tenang dan manis. Suatu malam kau mengirim sebuah pesan singkat di ponsel jadulku untuk mengajak bertemu di tempat yang tak jauh dari rumah kita, di sebuah Pasar Puspa Agro yang terbesar ke-dua di Asia Tenggara setelah Pasar Thailand. Ya, rumah kita memang tak begitu berjauhan, hanya beda Desa saja. Aku lebih sampai dahulu di tempat, dan menunggumu dengan rasa yang belum bisa kuartikan sambil menebak-nebak untuk apa mengajakku bertemu di tempat ini. Selang beberapa menit kemudian kau datang, dengan wajah ayumu yang tersenyum kikuk dan mengambil sekantong plastik dari gantungan motormu. "Ini mas, aku tadi mampir sekalian beli martabak manis ini buat kamu" Katamu sambil menyodorkan sekotak martabak manis kearahku. Aku dibuatnya kaget, aku tak menduga jika gadis kecil ini mengajakku bertemu hanya untuk memberi sepotong jajanan manis untukku. Ah aku jadi haru.
Semenjak saat itu, beberapa hari aku selalu dibuat resah memikirkan seorang gadis yang memberiku martabak manis rasa coklat dimalam itu.
Apa ini jatuh cinta?
Apa aku jatuh hati karena martabak manismu?

Hari demi hari kita saling berjalan bersama. Aku masih ingat ketika kali pertamanya kita jalan berdua. Minggu, pagi-pagi benar kamu dengan beraninya sudah ada di samping pagar rumahku, memintaku supaya mau menemani untuk sekedar lari pagi. Sepertinya aku sudah membuatmu sedikit kesal, dan hampir jatuh pada keputus asaan sebab terlalu lama menungguku yang masih lelap sekali mencumbui bantal guling di kasur. Maaf, aku jadi dibuat senyum senyum merasa bersalah mengingat hal itu. Sepanjang perjalanan menuju Pazkul, tempat yang jadi tujuan kita, kamu dengan tingkahmu yang diam dalam marah selama aku bonceng, dan sesekali memasang muka cemberut, membuatmu semakin terlihat menggemaskan di korneaku. Ah kamu begitu lucunya. 
Sesampainya di tempat kita tiba, tempat yang sekarang menjadi tongkrongan beken warga sidoarjo dan sekitarnya, kamu langsung beranjak dari boncengan motor. Menempelkan sepasang earphone di telinga kanan dan kiri, lalu berpaling mengayunkan langkah kaki pertama dan berlari santai sementara aku mengawalmu dari samping, yang masih diatas motor. Satu putaran, dua putaran, sampai entah beberapa putaran jalan yang telah kita lalui akhirnya kamu mengistirahatkan kaki diatas sebuah pijakan rumput hijau, dan aku segera duduk disebelahmu yang terlihat letih. Saat kamu sedang sibuknya meregangkan kaki-kaki, aku mengejutkanmu dengan sebuah kembang gula yang sekonyong-konyong kuhadapkan ke depan wajahmu yang dibalut raupan keringat. Kau pun tersenyum semringah, mendapatkan sesuatu yang begitu kau sukai. Ditambah lagi, sepucuk kertas yang sudah kububuhkan kedalam kembang gula tadi, bertuliskan "Aku sayang kamu". Kembang gula itu memang sengaja aku beri kertas didalamnya, dengan bantuan dan kerja sama dari bapak-bapak si penjual. Aku memang begitu, diam, tapi terkadang diamku ini menyiapkan sejuta kejutan. Aku jadi sering sekali menghadiahkanmu sebongkah kembang gula yang aku beli sepulang dari kerja. Biasanya aku meminta si bapak penjual langgananku untuk memadukan dua warna putih dan merah, jadilah warna yang begitu cantik teruntukmu. Dan akupun masih gemar mengirim kembang gula di beranda rumahmu diam-diam, meski sepasang sepatu kita sudah tidak saling lagi beriringan. 
Waktu ke waktu hubungan kita semakin dekatnya seperti sepasang kasih mengasih yang tak mengenal status berpacaran seperti halnya kebanyakan muda-mudi. Rutin, setidaknya beberapa hari dalam seminggu kita pergi bersama untuk sekedar memastikan 

;bahwa kau dan aku saling suka sama suka,
meyakinkan diri bila cinta hadir menyelimuti kedua hati kita,
mengiyakan jika perasaan ini adalah benar cinta yang dihadiahkan Tuhan untuk kami berdua!
 

Bergandeng tangan menyusuri eskalator demi eskalator dalam sebuah mall di Surabaya tercintaku ini dan mengunjungi gedung bioskop untuk melihat film yang sedang diputar.
Ketika itu, film berjudul Hunger Games yang kita lihat. Masuklah kami pada seruang bercahaya redup, dan duduk dikursi merah berbaris sebelah kiri diantara pengunjung lainnya yang sedang fokus menengadahkan kepala ke layar besar bersuara bombastis.
Rupanya pendingin diruangan ini begitu membuatmu terasa menggigil. Spontan, telapak tanganku langsung membungkus punggung telapak tangan kecilmu yang kedinginan. Bercengkramalah jari-jemari kita untuk saling menghangatkan satu sama lain. Aku suka, aku suka ketika adegan ini sedang kita alami, rasa malu-malu kian hadir terpampang dari paras wajahmu yang jadi tersipu merah merona. 

Usai menonton film kita munuju ke suatu tempat yang menyewakan jasa photo box. Berpose konyol, sampai mengumbar kemesraan tertangkap layar camera didepan kami. Lalu jadilah sealbum photo kita yang sekarang hanya berupa gambar-gambar silam. Photo-photo ini, beserta tiket masuk bioskop yang sudah kita tanda tangani masih tersimpan rapi di kotak tempatku biasa menyimpan barang-barang. Apa kau juga masih menyimpannya? 



Hal termanis yang terakhir aku lakukan untukmu, seingatku adalah ketika menghadiahkanmu seujung mawar merah sebagai penyemangat saat kau dengan gigihnya berjibaku menghadapi Ujian Nasional. Menyudahi masa putih abu-abumu dan memilih untuk melanjutkan disebuah Universitas dambaanmu seperti yang pernah kau katakan. (Baca http://t.co/VqLkeV6Wez ).
Entahlah apa sekarang kau masuk di Universitas itu, menjadi mahasiswi cantik yang terlihat dewasa, bukan gadis SMA lagi yang cengeng. Aku sudah tak lagi mengikuti beritamu, tak juga sibuk mencarimu, ataupun diam-diam memata-mataimu lewat akun sosial media ;Aku telah menyudahi semuanya, segala sesuatu yang membuatku candu tentangmu sejak saat itu, pada waktu dimana aku musti pergi meninggalkanmu yang selalu saja membuatku rapuh dan bertanya-tanya tentang janji yang pernah sama-sama harus disepakati, dan memaksa kedua jari kelingking kita untuk saling mengait. (Baca http://t.co/PtemfipkPZ )

Berduru skenario-skenario yang aku lewati bersamamu memang sebegitu indahnya dan tak cukup untuk diceritakan satu persatu. Menikmati pagi, siang, sore, malam, bahkan musim dingin bersamamu. Masih ingat tidak ketika kau pernah sangat mengantuk sekali lalu akhirnya tertidur dibelakang punggung dan memeluk erat lekuk tubuh rampingku dengan hangat sewaktu ku bonceng dimalam yang cukup membuat barisan bulu kudukmu tegap berdiri? Itu adalah hal terlugu dan termanis yang pernah kau hadirkan dalam hidupku. Kuakui semua adalah kenangan indah yang mungkin tidak bisa kita lakukan kembali.

Maaf, karena ketololanku ini kita jadi semakin jauh dan melupakan janji yang pernah kita buat sendiri. 

Maafkan aku membicarakanmu lagi dan lagi setelah sekian lamanya kita diam.
Sekali lagi aku memohon maaf karena telah berani menulismu kembali, yang sebenarnya semakin membuat luka-luka baru di pelataran hatiku.
Sekali waktu kau boleh datang menemui aku meski hanya berupa bayangan yang datang ketika sedang sendirian merindu, barang sebentar.
Aku tidak peduli dengan siapa saja pria yang pernah menggantikan posisiku dihatimu, yang setia membawakanmu kembang gula, yang selalu sedia bahu ketika kau begelimbang tangis. Yang pasti aku selalu berharap, jika kelak kita tak sengaja bertemu dalam suatu kurunan waktu, aku ingin kau mampu tertawa lepas kembali seperti dulu, bersamaku.
Bagaimana kabarmu, Gadis kecilku?
Begini saja yang bisa kulakukan pada saat merinduimu secara tiba-tiba, menumpahkan tentang kau kedalam tulisan dan menyebut namamu yang setiap waktu aku rajut dalam doa. Memohon segala kebaikan untukmu, sekalipun kau tak tahu.

Dari aku Lelaki bodoh yang biasa kau panggil, Mas Fajar.






Buduran-Sidoarjo, 19 November 2014

F. Agus Tiono
Selasa, 15 April 2014 - 0 komentar

BIP 1 April 2014 "PELUNASAN"


Akhirnya selasa awal Bulan April ini, jadi pelunasan kalimat-kalimat yang selama ini bergeliat di sanubari. Berduru-duru penantian yang tak pernah menginginkan hasil. 
Berbondong-bondong tanya yang tak pernah juga berharap akan datangnya seuntai jawaban. 
;Maka kutulis puisi ini untuk mengucapkan selamat, selamat ulang tahun.




Kepada A



Aku mencarimu dalam insomnia
Awan mendung baca hujan dan sebuah kau
Rambutmu yang panjang tergerai
Dan sepasang mata letih

Perempuan, bila rayu adalah kau
Maka mengingat kau adalah laut yang tak ku mengerti
Seandainya kau tahu, betapa aku ingin singgah 
Untukmu saja, tanpa perlu menghilang
Meski takut mencubit punggungku dengan dingin,
Dengan kesepian dan pertanyaan

Mengapa selalu ada mendung dimatamu.

A, merinduimu adalah jalan panjang tanpa ujung, dan penuh gelap diatap-atapnya
Juga sebuah peta (yang mungkin) ke hatimu. 

Bukankah kau tahu aku selalu ingin kesana berdua ;Untukmu saja tanpa perlu berdebat dengan takut, atau gambar-gambar masa silam di tembok kamar.

Perempuan, bisakah kita berdua saja membicarakan kebisuan kabut 
Atau mempertanyakan tidur putih ilalang
O, perempuan dalam kenang jumpa silam. 
Bisakah kita kembali mengenali hujan dengan basah ditubuhmu - tubuhku
Agar tubuhku - tubuhmu letih meninggalkan insomnia
Menggamit lenganmu dan kembali menghilang. 

Perempuan, apa aku pembual yang menyedihkan? 
Tak ada penjelasan, tak perlu dijelaskan. 





Selamat Ulang Tahun, A.

BIP 31 Maret 2014 "PESAN SINGKAT KITA"

Aku jadi ingat, tentang pesan-pesan kecil yang saling bersahutan beberapa bulan lalu. 
Kau dan aku saling bermain kalimat-kalimat syahdu. Meski sesekali aku bubuhi beberapa canda tawa, supaya tak membosankan.
Berucap manis saling kita lontarkan satu sama lain. Sekedar mengingatkan untuk sarapan di sepotong pagi, atau mengucapkan salam hangat ketika kau akan beranjak lelapi dingin malam. 
Seperti sepasang kasih mengasih
Padahal kita tak ubahnya pecundang menyebut semua itu dengan cinta. 
Bodoh. Entah siapa diantara kita berdua ini yang berperan sebagai orang dungu. 
Yang jelas kita sama-sama enggan untuk saling meyakini perasaan sendiri-sendiri. 


;Aku Pergi.

BIP 30 Maret 2014 "A"





Aprillia Soemantri.

BIP 29 Maret 2014 "HUJAN DAN KAU"

22:30 Sebelum tanggal 29 rerintik berjatuhan memenuhi jalanan, mengusap tebal debu siang tadi. Deru anginnya mengusap pengap jiwa. Kulihat lelampu jalanan begitu remangnya menyinari hujan, indah sekali jika dilihat dengan penuh rasa bersyukur. Tak nampak lalu lalang kendaraan yang biasa meramaikan aspal hitam. 
Duh Gusti, damai sekali. Ditambah lagi gemericik suara sungai yang membentang sepanjang pinggiran jalan, seraya melantunkan sebuah lagu hening ;Menghadiahkan riang dihati yang terlanjur pekat. 
Perihal kebasahan dibatin, tak ubahnya aku mengingatmu kembali. 

Perempuanku, sedang apa kau? Apakah sedang meratapi rerintik berjatuhan di beranda rumahmu, atau bahkan bermain hujan malam-malam begini. 
Sudahlah, hujan juga berhak untuk menyudahi kebasahan, aku harap kau tak terlalu larut menikmati hujan. 
Aku takut, dinginnya semakin membuatmu dalam merasakan kebasahan. Tapi tenang, aku lelaki yang pintar, aku masih bisa menghadiahkan rembulan sebagai pengganti pelangi, teruntukmu.


Perempuanku, segeralah beranjak dari genangan air hujan yang membuat kulit cantikmu putih memucat, lantangkan kakimu disebuah pijakan yang bersemi. Tanpa hujan, tanpa dingin, hanya ada aku dan kamu menikmati hangat rembulan baswara. 

BIP 28 Maret 2014 "MERINDU"

02:00 Detak jam dinding yang kulihat. Kosong pikiranku, mengambang-ngambang di ujung gelisah. Bosan. Aku bilang jenuh menyelimuti kepala.
Dinding-dinding sepertinya puas menertawai dalam diam. Seakan berbisik dengan renung pelita. 
Seolah ruang berpetak ini mengutukku. 
Akhirnya aku putuskan untuk keluar menikmati semilir angin malam. Benar saja, alam terbuka memang tempat yang paling nyaman. Dinginnya segarkan lagi pikiranku. 
Dan pada akhirnya sama seperti biasanya, bayanganmu datang begitu saja. 
Bibirku mulai mengembang senyum mengetahui hal ini terjadi lagi ;Tak berkesudahan. 

Hai sedang apa kau?
Apa kau sudah bangun, subuh-subuh begini?
Yang jelas aku tak tahu. Aku bukan orang sakti ataupun Tuhan. hanya sebatas pria biasa yang bodoh merindukanmu.
Kasih, lantas aku harus bagaimana?

BIP 27 Maret 2014 "TOLONG :("


Sang raja siang memamerkan sinarnya seraya memberi tanda bahwa ini sudah pagi. 

Terik hangatnya membelalakkan mataku, padahal aku belum juga membaringkan tubuh. Semalaman gundah mengebiri pikiranku. Sebab hal yang tak seharusnya kupikirkan. 
Ah sudahlahlah kupikir itu sesuatu yang terlewati dan musti di lupakan
Jika sedang seperti ini rasanya, aku ingin sekali ada seseorang disampingku. 
Kerinduan hatiku membisikkan sebuah nama "Aprillia Soemantri" oh iya aku ingin sekali ada dia disini sekarang untuk sekedar meminjam bahunya sebagai penompa lelah laraku. 
(Muskil untuk saat ini) 
Baiklah jika begitu, kenapa tidak kubayangkan saja dia berada disini, sedang memetiki tangisku. 
Lalu sekonyong-konyong mulai kugambar lekuk tubuhnya di otak, kulukis juga ayu wajah sendu yang beberapa hari ini kurindukan. 

Jadilah Aprilia Soemantri yang aku buat sendiri dari sekeranjang imajinasi kerinduan. 

BIP 26 Maret 2014 03:21 "SENYUM KECIL DI TIDURMU"

Sekonyong-konyong kornea rabunku ini menyorot sebuah benda indah diatas langit, suatu obyek bercahaya benderang. 
Pukul O2:24 ternyata bulan menyabit kerlingi bumi, tak ubahnya Pagi semakin menjadi-jadi dengan sepinya. Bahkan sepoi angin tak sayup terdengar. 
Meski tak begitu dingin, ku kucep lagi bibir cangkir berisi pekat kopiku yang tinggal separuh. Menikmati sunyi diujung pagi. Teman setiaku hanya sebatang rokok yang setiap saat, rela diapit kedua jariku.

Spontan, hatiku bergumam. "Ah, aku muak! Saat-saat seperti inilah yang membuatku terpojok disudut kerinduan" Bersamaan dengan kepulan asap rokok, berhembus dari mulutku. 
Pikiranku menggenang, dipenuhi ingatan tentang orang terkasih. 

Kasih, sedang apa kau dikejauhan sana?
Apa kau sedang tersenyum? Ah iya kau sedang tersenyum kecil dilelapi pulas tidurmu.  
Oh kalau sudah begitu aku tak berani lagi lama-lama menuangmu kedalam coretan ini. 
Aku takut mengganggu. 
Aku tak rela kau terbangun hanya karena pikiranku sedang labil, yang seenaknya saja bermain dengan kalimat-kalimat sendu untukmu.

BIP 25 Maret 2014 | 04:58 "AKU MENCINTAIMU KARENA TUHAN"


Malam tadi sepertinya malaikat tiap waktu selalu mendampingiku, menepukkan tangan baswaranya kepundakku seolah menyemangati.

Mataku masih menganga mengutuki kantuk. 

Ya. Semangatku begitu membeluak sampai-sampai aku lupa dengan kata lelah. 
Sangat menikmati sekali nikmat Gusti yang telah dititiskan kepadaku. Bersyukur, hidup memang seyogyanya seperti ini, indah jika kita membuang rasa keluh kesah, menanam syukur sedalam mungkin. 

Sekitar pukul ayam berkokok, adzan subuh bersua damai memanggih di telinga, perintahkan aku untuk manjadi seorang lelaki yang tampan serta wangi khas soerga. 
Bersimpuh sujud menyukuri setiap kejadian yang telah kunjung lewat, mengemis ridho untuk segala sekenario-sekenarioMu kedepannya. 
Tiba-tiba saja aku ingat seorang wanita terkasih yang masih menjadi peran utama di pelataran hatiku. 
Kedua tanganku mulai mengadah memohon tulus dalam doa untuk seorang terkasih, Aprill Lia Somantri. 
Bibir mengepul mengucap namamu di tiap kalimat-kalimat doa.
Duh Gusti, gadis ini benar-benar permaysuri ciptaanMu yang membuatku gila untuk kesekian kalinya.
Ayu wajah dipayungi helaian rambut indah, bisa kugambarkan dengan gampangnya dikepala. 
Lalu tentang Gaya bicaranya, bisa kuhapal, juga senyum kecil yang pernah dilemparkannya kepadaku, sayup-sayup makin membusai harap supaya lebih dalam lagi untuk merindu. 
perempuanku, apa kau tahu saat ini aku sedang menjemputmu dalam doa? 
"Aku mencintaimu karena Tuhan" 
Dan doa pun diakhiri!

BIP 24 Maret 2014 "INSOMNIA"

Mungkin, jika boleh ditambahkan. Insomnia, istilah untuk susah tidur, bisa saja ku bubuhi kalimat tambahan, menjadi "insomniat karena april soemantri." 
Betapa tidak?  
Mataku belum juga bosan menikmati dingin malam yang beranjak pagi. Menguap sekali pun, nampaknya secara naluri ditolak oleh tubuh perawakan kurus ini. 
Entahlah, untuk sekedar menapaki rindu yang mengumpat dibalik ayu wajahmu saja, aku rela untuk tidak tidur seharian. 
Menikmati sayup-sayup hangat bayangan yang selalu memaksaku mengingat singkatnya pertemuan kita.
Meski sebegitu singkat, aku selalu menghargai bagaimana caranya ingatan tentang bekas senyum terakhir yang pernah kudapatkan lalu, keluar masuk begitu saja menghantui batin. Sakit mungkin, tapi inilah hati yang telah di suntik mati, sebab datangmu. 

Miris. 




04:04

"PAGAR RUMAH"



Andai saja aku bisa jadi pagar rumahmu. 
Iya, pagar rumah. Yang selalu bisa menatap bisu pada saat kau akan pergi sekolah dan setia menyambutmu dalam diam ketika kembali pulang.
Sangat mengasikkan, bukan? 
Kalau sudah begitu, aku tak punya lagi alasan untuk menyimpan rasa rindu yang berkubang.
tak apa-apa, sekalipun aku menjadi benda mati yang seenaknya kau tarik-tarik supaya bisa keluar masuk, asalkan aku bisa menjumpaimu setiap saat. 
Entahlah aku ini bodoh, sehingga aku pun rela untuk menjadi benda mati. 
Ah sudahlah, bukankah orang tulus itu tak pernah  mengharapkan apa-apa? Yang dia tau, dia sudah merasa ikut bahagia saja pada saat orang tersayangnya masih bisa tersenyum semringah.
Miris sekali, bukan? 






F. Agus Tiono
12 Februari 2014 01:59