Sebelum membaca, dipersilahkan terlebih dahulu untuk membuka link ini http://t.co/ejpl52qSwv
Pada nyatanya, memang betul jadilah aku seorang lelaki yang benar-benar gila karena sebuah album kenangan bersamamu. Dan kamu, mungkin saja telah menemukan album-album baru yang telah menggantikan kenangan kita.
Tiba-tiba saja aku jadi merindukanmu. Sebab Gadis SMA yang diam-diam mengagumiku. Iya dia masih SMA sepertimu dulu ketika kau pernah tertawa sangat ceria dan kita masih setia bersama kemarin. Gadis itu dengan seenaknya saja mengingatkanku padamu. Meski tak keseluruhan sama denganmu. Tak lebih ayu darimu, hanya saja Gadis SMA itu telah menghadiahkan butir-butir ingatan yang berarti rindu. Benar, kamu memang berbeda. Kau, dengan watakmu yang nekat, kau yang dulu masih begitu keras kepalanya dan berani, walaupun dengan perawakan tubuh kecil juga kelembutanmu. Aku suka. Bukan, bukan maksudku untuk membadingkan kamu dengan dia. Aku tahu, kau paling tidak suka untuk dibanding-bandingkan. Sudahlah, sebenarnya aku juga tidak berniat untuk menorehkan dua tokoh utama dalam penulisan ini. Prioritas utama disini adalah menceritakan kau, Gadis kecilku dulu yang masih SMA.
Hai, apa kabar Gadis kecilku? Rupanya terhitung sejak pertengahan 2012, kita tak berjumpa.
Aku mundur, pada peristiwa dua tahun lebih yang lalu. Waktu itu, aku lebih memilih untuk menyudahi semuanya ketimbang selalu merasa ada raungan nan menjerit tangis, seperti mengiris sesuatu dibalik dadaku.
Pada awalnya semua berjalan begitu tenang dan manis. Suatu malam kau mengirim sebuah pesan singkat di ponsel jadulku untuk mengajak bertemu di tempat yang tak jauh dari rumah kita, di sebuah Pasar Puspa Agro yang terbesar ke-dua di Asia Tenggara setelah Pasar Thailand. Ya, rumah kita memang tak begitu berjauhan, hanya beda Desa saja. Aku lebih sampai dahulu di tempat, dan menunggumu dengan rasa yang belum bisa kuartikan sambil menebak-nebak untuk apa mengajakku bertemu di tempat ini. Selang beberapa menit kemudian kau datang, dengan wajah ayumu yang tersenyum kikuk dan mengambil sekantong plastik dari gantungan motormu. "Ini mas, aku tadi mampir sekalian beli martabak manis ini buat kamu" Katamu sambil menyodorkan sekotak martabak manis kearahku. Aku dibuatnya kaget, aku tak menduga jika gadis kecil ini mengajakku bertemu hanya untuk memberi sepotong jajanan manis untukku. Ah aku jadi haru.
Semenjak saat itu, beberapa hari aku selalu dibuat resah memikirkan seorang gadis yang memberiku martabak manis rasa coklat dimalam itu.
Apa ini jatuh cinta?
Apa aku jatuh hati karena martabak manismu?
Hari demi hari kita saling berjalan bersama. Aku masih ingat ketika kali pertamanya kita jalan berdua. Minggu, pagi-pagi benar kamu dengan beraninya sudah ada di samping pagar rumahku, memintaku supaya mau menemani untuk sekedar lari pagi. Sepertinya aku sudah membuatmu sedikit kesal, dan hampir jatuh pada keputus asaan sebab terlalu lama menungguku yang masih lelap sekali mencumbui bantal guling di kasur. Maaf, aku jadi dibuat senyum senyum merasa bersalah mengingat hal itu. Sepanjang perjalanan menuju Pazkul, tempat yang jadi tujuan kita, kamu dengan tingkahmu yang diam dalam marah selama aku bonceng, dan sesekali memasang muka cemberut, membuatmu semakin terlihat menggemaskan di korneaku. Ah kamu begitu lucunya.
Sesampainya di tempat kita tiba, tempat yang sekarang menjadi tongkrongan beken warga sidoarjo dan sekitarnya, kamu langsung beranjak dari boncengan motor. Menempelkan sepasang earphone di telinga kanan dan kiri, lalu berpaling mengayunkan langkah kaki pertama dan berlari santai sementara aku mengawalmu dari samping, yang masih diatas motor. Satu putaran, dua putaran, sampai entah beberapa putaran jalan yang telah kita lalui akhirnya kamu mengistirahatkan kaki diatas sebuah pijakan rumput hijau, dan aku segera duduk disebelahmu yang terlihat letih. Saat kamu sedang sibuknya meregangkan kaki-kaki, aku mengejutkanmu dengan sebuah kembang gula yang sekonyong-konyong kuhadapkan ke depan wajahmu yang dibalut raupan keringat. Kau pun tersenyum semringah, mendapatkan sesuatu yang begitu kau sukai. Ditambah lagi, sepucuk kertas yang sudah kububuhkan kedalam kembang gula tadi, bertuliskan "Aku sayang kamu". Kembang gula itu memang sengaja aku beri kertas didalamnya, dengan bantuan dan kerja sama dari bapak-bapak si penjual. Aku memang begitu, diam, tapi terkadang diamku ini menyiapkan sejuta kejutan. Aku jadi sering sekali menghadiahkanmu sebongkah kembang gula yang aku beli sepulang dari kerja. Biasanya aku meminta si bapak penjual langgananku untuk memadukan dua warna putih dan merah, jadilah warna yang begitu cantik teruntukmu. Dan akupun masih gemar mengirim kembang gula di beranda rumahmu diam-diam, meski sepasang sepatu kita sudah tidak saling lagi beriringan.
Waktu ke waktu hubungan kita semakin dekatnya seperti sepasang kasih mengasih yang tak mengenal status berpacaran seperti halnya kebanyakan muda-mudi. Rutin, setidaknya beberapa hari dalam seminggu kita pergi bersama untuk sekedar memastikan
;bahwa kau dan aku saling suka sama suka,
meyakinkan diri bila cinta hadir menyelimuti kedua hati kita,
mengiyakan jika perasaan ini adalah benar cinta yang dihadiahkan Tuhan untuk kami berdua!
Bergandeng tangan menyusuri eskalator demi eskalator dalam sebuah mall di Surabaya tercintaku ini dan mengunjungi gedung bioskop untuk melihat film yang sedang diputar.
Ketika itu, film berjudul Hunger Games yang kita lihat. Masuklah kami pada seruang bercahaya redup, dan duduk dikursi merah berbaris sebelah kiri diantara pengunjung lainnya yang sedang fokus menengadahkan kepala ke layar besar bersuara bombastis.
Rupanya pendingin diruangan ini begitu membuatmu terasa menggigil. Spontan, telapak tanganku langsung membungkus punggung telapak tangan kecilmu yang kedinginan. Bercengkramalah jari-jemari kita untuk saling menghangatkan satu sama lain. Aku suka, aku suka ketika adegan ini sedang kita alami, rasa malu-malu kian hadir terpampang dari paras wajahmu yang jadi tersipu merah merona.
Usai menonton film kita munuju ke suatu tempat yang menyewakan jasa photo box. Berpose konyol, sampai mengumbar kemesraan tertangkap layar camera didepan kami. Lalu jadilah sealbum photo kita yang sekarang hanya berupa gambar-gambar silam. Photo-photo ini, beserta tiket masuk bioskop yang sudah kita tanda tangani masih tersimpan rapi di kotak tempatku biasa menyimpan barang-barang. Apa kau juga masih menyimpannya?
Hal termanis yang terakhir aku lakukan untukmu, seingatku adalah ketika menghadiahkanmu seujung mawar merah sebagai penyemangat saat kau dengan gigihnya berjibaku menghadapi Ujian Nasional. Menyudahi masa putih abu-abumu dan memilih untuk melanjutkan disebuah Universitas dambaanmu seperti yang pernah kau katakan. (Baca http://t.co/VqLkeV6Wez ).
Entahlah apa sekarang kau masuk di Universitas itu, menjadi mahasiswi cantik yang terlihat dewasa, bukan gadis SMA lagi yang cengeng. Aku sudah tak lagi mengikuti beritamu, tak juga sibuk mencarimu, ataupun diam-diam memata-mataimu lewat akun sosial media ;Aku telah menyudahi semuanya, segala sesuatu yang membuatku candu tentangmu sejak saat itu, pada waktu dimana aku musti pergi meninggalkanmu yang selalu saja membuatku rapuh dan bertanya-tanya tentang janji yang pernah sama-sama harus disepakati, dan memaksa kedua jari kelingking kita untuk saling mengait. (Baca http://t.co/PtemfipkPZ )
Berduru skenario-skenario yang aku lewati bersamamu memang sebegitu indahnya dan tak cukup untuk diceritakan satu persatu. Menikmati pagi, siang, sore, malam, bahkan musim dingin bersamamu. Masih ingat tidak ketika kau pernah sangat mengantuk sekali lalu akhirnya tertidur dibelakang punggung dan memeluk erat lekuk tubuh rampingku dengan hangat sewaktu ku bonceng dimalam yang cukup membuat barisan bulu kudukmu tegap berdiri? Itu adalah hal terlugu dan termanis yang pernah kau hadirkan dalam hidupku. Kuakui semua adalah kenangan indah yang mungkin tidak bisa kita lakukan kembali.
Maaf, karena ketololanku ini kita jadi semakin jauh dan melupakan janji yang pernah kita buat sendiri.
Maafkan aku membicarakanmu lagi dan lagi setelah sekian lamanya kita diam.
Sekali lagi aku memohon maaf karena telah berani menulismu kembali, yang sebenarnya semakin membuat luka-luka baru di pelataran hatiku.
Sekali waktu kau boleh datang menemui aku meski hanya berupa bayangan yang datang ketika sedang sendirian merindu, barang sebentar.
Aku tidak peduli dengan siapa saja pria yang pernah menggantikan posisiku dihatimu, yang setia membawakanmu kembang gula, yang selalu sedia bahu ketika kau begelimbang tangis. Yang pasti aku selalu berharap, jika kelak kita tak sengaja bertemu dalam suatu kurunan waktu, aku ingin kau mampu tertawa lepas kembali seperti dulu, bersamaku.
Bagaimana kabarmu, Gadis kecilku?
Begini saja yang bisa kulakukan pada saat merinduimu secara tiba-tiba, menumpahkan tentang kau kedalam tulisan dan menyebut namamu yang setiap waktu aku rajut dalam doa. Memohon segala kebaikan untukmu, sekalipun kau tak tahu.
Dari aku Lelaki bodoh yang biasa kau panggil, Mas Fajar.
Pada nyatanya, memang betul jadilah aku seorang lelaki yang benar-benar gila karena sebuah album kenangan bersamamu. Dan kamu, mungkin saja telah menemukan album-album baru yang telah menggantikan kenangan kita.
Tiba-tiba saja aku jadi merindukanmu. Sebab Gadis SMA yang diam-diam mengagumiku. Iya dia masih SMA sepertimu dulu ketika kau pernah tertawa sangat ceria dan kita masih setia bersama kemarin. Gadis itu dengan seenaknya saja mengingatkanku padamu. Meski tak keseluruhan sama denganmu. Tak lebih ayu darimu, hanya saja Gadis SMA itu telah menghadiahkan butir-butir ingatan yang berarti rindu. Benar, kamu memang berbeda. Kau, dengan watakmu yang nekat, kau yang dulu masih begitu keras kepalanya dan berani, walaupun dengan perawakan tubuh kecil juga kelembutanmu. Aku suka. Bukan, bukan maksudku untuk membadingkan kamu dengan dia. Aku tahu, kau paling tidak suka untuk dibanding-bandingkan. Sudahlah, sebenarnya aku juga tidak berniat untuk menorehkan dua tokoh utama dalam penulisan ini. Prioritas utama disini adalah menceritakan kau, Gadis kecilku dulu yang masih SMA.
Hai, apa kabar Gadis kecilku? Rupanya terhitung sejak pertengahan 2012, kita tak berjumpa.
Aku mundur, pada peristiwa dua tahun lebih yang lalu. Waktu itu, aku lebih memilih untuk menyudahi semuanya ketimbang selalu merasa ada raungan nan menjerit tangis, seperti mengiris sesuatu dibalik dadaku.
Pada awalnya semua berjalan begitu tenang dan manis. Suatu malam kau mengirim sebuah pesan singkat di ponsel jadulku untuk mengajak bertemu di tempat yang tak jauh dari rumah kita, di sebuah Pasar Puspa Agro yang terbesar ke-dua di Asia Tenggara setelah Pasar Thailand. Ya, rumah kita memang tak begitu berjauhan, hanya beda Desa saja. Aku lebih sampai dahulu di tempat, dan menunggumu dengan rasa yang belum bisa kuartikan sambil menebak-nebak untuk apa mengajakku bertemu di tempat ini. Selang beberapa menit kemudian kau datang, dengan wajah ayumu yang tersenyum kikuk dan mengambil sekantong plastik dari gantungan motormu. "Ini mas, aku tadi mampir sekalian beli martabak manis ini buat kamu" Katamu sambil menyodorkan sekotak martabak manis kearahku. Aku dibuatnya kaget, aku tak menduga jika gadis kecil ini mengajakku bertemu hanya untuk memberi sepotong jajanan manis untukku. Ah aku jadi haru.
Semenjak saat itu, beberapa hari aku selalu dibuat resah memikirkan seorang gadis yang memberiku martabak manis rasa coklat dimalam itu.
Apa ini jatuh cinta?
Apa aku jatuh hati karena martabak manismu?
Hari demi hari kita saling berjalan bersama. Aku masih ingat ketika kali pertamanya kita jalan berdua. Minggu, pagi-pagi benar kamu dengan beraninya sudah ada di samping pagar rumahku, memintaku supaya mau menemani untuk sekedar lari pagi. Sepertinya aku sudah membuatmu sedikit kesal, dan hampir jatuh pada keputus asaan sebab terlalu lama menungguku yang masih lelap sekali mencumbui bantal guling di kasur. Maaf, aku jadi dibuat senyum senyum merasa bersalah mengingat hal itu. Sepanjang perjalanan menuju Pazkul, tempat yang jadi tujuan kita, kamu dengan tingkahmu yang diam dalam marah selama aku bonceng, dan sesekali memasang muka cemberut, membuatmu semakin terlihat menggemaskan di korneaku. Ah kamu begitu lucunya.
Sesampainya di tempat kita tiba, tempat yang sekarang menjadi tongkrongan beken warga sidoarjo dan sekitarnya, kamu langsung beranjak dari boncengan motor. Menempelkan sepasang earphone di telinga kanan dan kiri, lalu berpaling mengayunkan langkah kaki pertama dan berlari santai sementara aku mengawalmu dari samping, yang masih diatas motor. Satu putaran, dua putaran, sampai entah beberapa putaran jalan yang telah kita lalui akhirnya kamu mengistirahatkan kaki diatas sebuah pijakan rumput hijau, dan aku segera duduk disebelahmu yang terlihat letih. Saat kamu sedang sibuknya meregangkan kaki-kaki, aku mengejutkanmu dengan sebuah kembang gula yang sekonyong-konyong kuhadapkan ke depan wajahmu yang dibalut raupan keringat. Kau pun tersenyum semringah, mendapatkan sesuatu yang begitu kau sukai. Ditambah lagi, sepucuk kertas yang sudah kububuhkan kedalam kembang gula tadi, bertuliskan "Aku sayang kamu". Kembang gula itu memang sengaja aku beri kertas didalamnya, dengan bantuan dan kerja sama dari bapak-bapak si penjual. Aku memang begitu, diam, tapi terkadang diamku ini menyiapkan sejuta kejutan. Aku jadi sering sekali menghadiahkanmu sebongkah kembang gula yang aku beli sepulang dari kerja. Biasanya aku meminta si bapak penjual langgananku untuk memadukan dua warna putih dan merah, jadilah warna yang begitu cantik teruntukmu. Dan akupun masih gemar mengirim kembang gula di beranda rumahmu diam-diam, meski sepasang sepatu kita sudah tidak saling lagi beriringan.
Waktu ke waktu hubungan kita semakin dekatnya seperti sepasang kasih mengasih yang tak mengenal status berpacaran seperti halnya kebanyakan muda-mudi. Rutin, setidaknya beberapa hari dalam seminggu kita pergi bersama untuk sekedar memastikan
;bahwa kau dan aku saling suka sama suka,
meyakinkan diri bila cinta hadir menyelimuti kedua hati kita,
mengiyakan jika perasaan ini adalah benar cinta yang dihadiahkan Tuhan untuk kami berdua!
Bergandeng tangan menyusuri eskalator demi eskalator dalam sebuah mall di Surabaya tercintaku ini dan mengunjungi gedung bioskop untuk melihat film yang sedang diputar.Ketika itu, film berjudul Hunger Games yang kita lihat. Masuklah kami pada seruang bercahaya redup, dan duduk dikursi merah berbaris sebelah kiri diantara pengunjung lainnya yang sedang fokus menengadahkan kepala ke layar besar bersuara bombastis.
Rupanya pendingin diruangan ini begitu membuatmu terasa menggigil. Spontan, telapak tanganku langsung membungkus punggung telapak tangan kecilmu yang kedinginan. Bercengkramalah jari-jemari kita untuk saling menghangatkan satu sama lain. Aku suka, aku suka ketika adegan ini sedang kita alami, rasa malu-malu kian hadir terpampang dari paras wajahmu yang jadi tersipu merah merona.
Usai menonton film kita munuju ke suatu tempat yang menyewakan jasa photo box. Berpose konyol, sampai mengumbar kemesraan tertangkap layar camera didepan kami. Lalu jadilah sealbum photo kita yang sekarang hanya berupa gambar-gambar silam. Photo-photo ini, beserta tiket masuk bioskop yang sudah kita tanda tangani masih tersimpan rapi di kotak tempatku biasa menyimpan barang-barang. Apa kau juga masih menyimpannya?
Hal termanis yang terakhir aku lakukan untukmu, seingatku adalah ketika menghadiahkanmu seujung mawar merah sebagai penyemangat saat kau dengan gigihnya berjibaku menghadapi Ujian Nasional. Menyudahi masa putih abu-abumu dan memilih untuk melanjutkan disebuah Universitas dambaanmu seperti yang pernah kau katakan. (Baca http://t.co/VqLkeV6Wez ).
Entahlah apa sekarang kau masuk di Universitas itu, menjadi mahasiswi cantik yang terlihat dewasa, bukan gadis SMA lagi yang cengeng. Aku sudah tak lagi mengikuti beritamu, tak juga sibuk mencarimu, ataupun diam-diam memata-mataimu lewat akun sosial media ;Aku telah menyudahi semuanya, segala sesuatu yang membuatku candu tentangmu sejak saat itu, pada waktu dimana aku musti pergi meninggalkanmu yang selalu saja membuatku rapuh dan bertanya-tanya tentang janji yang pernah sama-sama harus disepakati, dan memaksa kedua jari kelingking kita untuk saling mengait. (Baca http://t.co/PtemfipkPZ )
Berduru skenario-skenario yang aku lewati bersamamu memang sebegitu indahnya dan tak cukup untuk diceritakan satu persatu. Menikmati pagi, siang, sore, malam, bahkan musim dingin bersamamu. Masih ingat tidak ketika kau pernah sangat mengantuk sekali lalu akhirnya tertidur dibelakang punggung dan memeluk erat lekuk tubuh rampingku dengan hangat sewaktu ku bonceng dimalam yang cukup membuat barisan bulu kudukmu tegap berdiri? Itu adalah hal terlugu dan termanis yang pernah kau hadirkan dalam hidupku. Kuakui semua adalah kenangan indah yang mungkin tidak bisa kita lakukan kembali.
Maaf, karena ketololanku ini kita jadi semakin jauh dan melupakan janji yang pernah kita buat sendiri.
Maafkan aku membicarakanmu lagi dan lagi setelah sekian lamanya kita diam.
Sekali lagi aku memohon maaf karena telah berani menulismu kembali, yang sebenarnya semakin membuat luka-luka baru di pelataran hatiku.
Sekali waktu kau boleh datang menemui aku meski hanya berupa bayangan yang datang ketika sedang sendirian merindu, barang sebentar.
Aku tidak peduli dengan siapa saja pria yang pernah menggantikan posisiku dihatimu, yang setia membawakanmu kembang gula, yang selalu sedia bahu ketika kau begelimbang tangis. Yang pasti aku selalu berharap, jika kelak kita tak sengaja bertemu dalam suatu kurunan waktu, aku ingin kau mampu tertawa lepas kembali seperti dulu, bersamaku.
Bagaimana kabarmu, Gadis kecilku?
Begini saja yang bisa kulakukan pada saat merinduimu secara tiba-tiba, menumpahkan tentang kau kedalam tulisan dan menyebut namamu yang setiap waktu aku rajut dalam doa. Memohon segala kebaikan untukmu, sekalipun kau tak tahu.
Dari aku Lelaki bodoh yang biasa kau panggil, Mas Fajar.
Buduran-Sidoarjo, 19 November 2014
F. Agus Tiono
%2B2012-03-23%2B17.12.42.jpg)
1 komentar:
Tulisanmu lebih tertata. Terus belajar, jar.
Posting Komentar