Rabu, 25 Juli 2012 - 0 komentar

Untuk Sahabatku, Bayu Eko Prasetio (Angin) . 28 juli 2012

"Hal-hal yang sangat aku benci di dunia ini adalah, ditinggalkan pergi oleh orang-orang terkasih.
Sejak masih berumur empat tahun, aku telah di tinggal seseorang (Almarhum) yang begitu aku sayang. Lalu ketika berajak dewasa aku juga di tinggalkan oleh Masa lalu, kenangan, dan kekasih.
Dan sekarang, kau, sahabatku !"


    Sahabatku telah rantau ke kota kerawang, menjalani garis kehidupan yang telah di tentukan. Meninggalkan aku disini, sendiri, bersama kenangan-kenangan bisu. Tahukah kau betapa aku rindu denganmu? yang rupanya kerinduan ini tak kuasa ku kandung. Sudah setahun lebih kita tak berjumpa. Seingatku terakhir kita bertatap mata, hari dimana aku mengantar kepergianmu, beranjak ke sebuah gerbong kereta yang menuju kota Bekasi. kau pun pergi meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, dan aku sahabatmu.
    Dan hari-hari setelah kau pergi. Tangis, sedih, senyum,  rindu, kecewa  bergabung jadi satu, menjadi suatu perasaan yang tidak bisa ku jabarkan.

"Aku mati disini tanpamu sahabatku, Bayu eko prasetio
  Jauh darimu, seperti suara derap langkahku yang hilang"

     Terkadang ketika rindu ini bergeliat emosi, yang bisa ku lakukan hanya datang ke rumahmu. Melihat kenangan kita dari kejauhan ;tempat dimana kau dan aku sering melakukan hal-hal yang sulit untuk dilupakan. Dulu sekali, aku selalu datang kerumahmu untuk mengumbar canda tawa ataupun bercerita tentang masalah yang kualami. Ah, aku sudah terbiasa denganmu. Dan aku serupa balita yang kehilangan ibunya, saat aku tanpa kau.
Bahkan untuk sekedar membeli pakaian pun, aku bingung kepada siapa lagi aku bertanya
"Apa pakaian ini pantas denganku?"

       Lalu tentang hal kecil yang mengingatkanku tentangmu. Seperti siang tadi saat aku mengasah mata pisau, aku biasa mengasah mata pisau dengan dua arah. Tapi kali ini tidak demi rasa rinduku, aku mengasahnya dengan satu arah karena kau pernah mengajariku cara untuk mengasah pisau. Banyak sekali pelajaran yang aku dapat darimu, kawan.
Angin, kau pasti tersenyum kan, melihatku bertingkah seperti ini?



Angin, kita memang beda. Dari segala cara apapun. Tapi karena perbedaan itulah, justru yang membuat kita menghargai indah persahabatan.







"Yang masih membuatku untuk tetap tersenyum di bumi pertiwi ini, karena aku percaya 
mereka-mereka yang telah meninggalkanku akan kembali kepadaku.
Karena mereka pergi untuk kembali :)
Dan untuk kalian yang juga merasakan hal sama denganku, tetaplah tersenyum.
Percayalah, mereka yang pergi akan kembali kepadamu, nantinya"
Jumat, 20 Juli 2012 - 0 komentar

Last Poem For You / 20.March.2012

I'm flying into your nasty heart. Wish something real for us. Till we meet, I found double unpredicted personality between love and your future. For the few times, mad cause love story.
Should be wet that here was can't floading a heart that pushed me to desperate.
I'm crying for arrival of you when this heart become groing up. Or maybe your leave is that what I want?
Why cause of holly honestly is no respons? when a full of heart is true the last for you.

Why we're not become one?
maybe your heart was not whole to me, fool man that trying to make me happy.
You must leave!
if this gathering  for all this times is useless.

But sorry.
Honestly of my life, my heart, my time, and also my smile mention of
"If I truely loving you, my Lady"
Kamis, 19 Juli 2012 - 0 komentar

Ketika Aku Rindu / 9.6.2012

Ketika aku rindu denganmu dan melihat kenangan tua kita. Photo itu masih saja mati bagiku, tak bisa memberi tahu, apa yang harus aku lakukan?
Aku terlihat tampan disitu, mendekap hangat lekuk tubuhmu dan kau, tampak sebegitu cantiknya dengan senyuman itu. Tapi aku benci melihatmu. Muak karena pribadi yang membius kita jadi seperti ini
Sudah berapa pekan kita tak berjumpa
yang harusnya juli nanti adalah janji. Kau masih ingat dengan janji itu bukan

"Tunggu aku"
(dan kelingking kita saling bersatu)


Hei kau, masih ingat dengan janji itu bukan?Sudahlah, lupakan saja. Aku tak berniat untuk menebak-nebak jalan Tuhan nantinya.
Dalam hatiku, tak ingin ada lagi putih yang kau hitam-hitamkan, jika dirimu memang bukan untukku.
- 0 komentar

Pagi Yang Ranum / 4.5.2012

Gerimis mengetik-ngetik genting rumah dan mengantarkanku pada pagi yang ranum.
Jumat ini adalah tugas hujan untuk mengindahkan pagi, bukan lagi embun ataupun kabut tipis. Matahari,
masih malu-malu memamerkan baswaranya. Aku bisa melihat padi yang semakin hijau terbalut basah
juga kudengar perincit mulai berkicau sesekali mereka lompat dari ranting ke ranting lain. Menari kecil seakan tahu rerintik pagi ini adalah berkah bagi semua ciptaan sang Gusti. Ya, hujan kali adalah hadiah dari Tuhan. Terutama untuk kalian yang bersedih.
Ayolah, hujan sudah cukup untuk mengungkap kebasahan. Jadi kalian tak perlu menangis lagi.
Tersenyumlah untuk pagi ini, mengucap syukur atas nikmat kuasa Tuhan.
Pejamkan matamu, nikmati rerintik dari hati. Rasakan bayu pagi yang membius damai.

Tapi, jika kalian tak bisa melakukan hal itu, datanglah padaku.
Aku bisa mengajari kalian cara bersyukur, menikmati dan merasakan berkah dari tuhan.




Terimakasih Tuhan, kau telah mengirimkan hujan untuk aku, kamu, kalian, dan semua yang indah di pagi yang ranum.