Minggu, 10 November 2013 - 0 komentar

TERUNTUK, CHARMA JUINDA



Entah apa yang membuatku sampai menuliskanmu disini.
Yang pasti setiap malam aku selalu setia menjumpaimu dalam angan, harap akan pertemuan. Tulus meniduri waktu agar dapat menatap wajah ayumu meski dari kejauhan sana, lewat sebuah layar kaca.


Damai kurasa ketika telah bisa melihat senyum yang malu-malu itu, seolah mengendap-endap di batin.
Mengutuk dengan alaminya, menjadi sebuah patung diam bernaluri kagum.
Tak bisa beranjak, menyuruhku diam supaya dapat merekam setiap ekspresi wajah ayu itu diotak kecilku, sebagai mimpi indah dalam tidur.


Juga penghangat, pengganti selimutku

Tubuh indah menjulang tinggi berlapis lembut kulit putih, serupa kepompong sutera yang siap dipanen.
Ah, mungkin seperti itulah penghuni khayangan. Auranya tak diragukan lagi, sanggup membuai takjub seorang penulis musiman biasa seperti diriku.



Dan rupanya aku tak patut berharap lebih, hanya dengan beginilah cara menjabarkan rasa kekagumanku padamu, Charma Juinda
Gadis ayu dikejauhan sana.
Jumat, 09 Agustus 2013 - , 0 komentar

JUDUL YANG TELAH DIRUBAH


Apakah aku boleh untuk sekedar menebak-nebak jalan Tuhan, tentang kita berdua?

Masih saja. segemelincir perasaan sulit untuk diartikan, sanggup membuat lajur darah ataupun gangguan di saraf-saraf kecil otakku terganggu. Seorang Gadisku yang kulihat kemarau lalu, mengenakan Rok abu-abu. Datang serupa kemarau yang berkunjung semi di batin. Maaf. aku lancang, aku sebut dirimu Gadisku. Sebab aku tak tahu lagi mesti menyebutmu apa dalam penulisanku. Atau mungkin juga, sebab tak ada lagi seseorang untuk dipanggil sebagai Gadisku.

Sesekali wajah Ayumu mengeluarkan suara kecil yang sulit kudengar, tapi aku masih bisa, jika hanya sekedar untuk membaca gerak gerik bibir tipis itu yang perlahan mnggelayuti imajinasiku. Apa aku rindu? Entah aku sendiri tak bisa mejabarkan detail. Hanya saja kau memang hebat, nampaknya telah berhasil mengguna-gunaiku. Kulihat belakangan ini senyum kecil dengan dagu indah membelah, acap kali menghadiahi sekeranjang rindu.
Sudah pernah kubilang kepadamukan, dagu itu indah.


Yang bisa kulihat sekarang hanya sebuah gambar diam yang berbicara di atap-atap kamarku.
"Aku mengagumimu, gadisku."
hanya kalimat itu yang bisa ku akui.
Lantas, apa aku mencintaimu?
Tak menahu. Soal itu aku tak berhak untuk menjawabnya pula. Lalu begini saja kenapa tidak kau saja, yang menjawabnya?

lebih adil bukan?
Sudahlah sebelumnya memang tak tak ada kiasan apapun 
mengganjal di hati untuk di
utarakan.  Jadi jangan memaksaku menulis semua ini.
 


Sepeninggalan jumpa itu


yang kau sisakan hanya berupa dekapan dingin telapak tangan kita yang saling bersalaman, serta belahan tengah rambut kesamping yang tak beralur. Entahlah, aku tak mempermasalahkan hal itu. Yang jelas, kau tampak ayu di kornea rabunku dengan seanggun mungkin rambut panjangmu.
Namun harusnya aku tak mengenalmu, menjumpaimu dalam pertemuanNYA. Akupun takut. Bukan, ini bukan rasa takut karena sisa-sisa kenangan terdahulu. Melainkan rasa takut yang sebenarnya. Jika kelak aku bisa membawamu kedalam duniaku tapi kau tidak bisa menjamah, menikmati nuasa keindahan yang disuguhkan oleh kesederhanaanku. Lalu, kau pun pergi, perlina melalang buana bersama keindahan-keindahan lain.

Apakah aku boleh, untuk sekedar menebak-nebak jalan tuhan, tentang kita berdua?
Sudahlah kau pun saja belum menjawab semua pertanyaanku, jadi apa masih pantas untukku berharap lebih?








                                      Dari lelaki sederhana yang
                                      selalu mengharapkan pertemuan kedua kita.