Sabtu, 19 Mei 2012 - 0 komentar

Terlanjur Pagi. 02:36



Sudahlah sayang, kau mesti tidur.
Aku lihat matamu telah berurai letih,
menatap senyum palsuku.

Sudahlah sayang, kau mesti tidur.
Pagi terlanjur datang,
jika kau kirimkan bintang.

Sudahlah sayang, kau mesti tidur.
Nanti subuh-subuh benar,
kau harus bangun untuk menziarahi
dirimu sendiri di hatiku.

Sudahlah sayang.
Aku bilang, kau mesti tidur !
Karena kelak kau tidak akan bertemu aku kembali.

:Aku tak mau memamerkan senyum lagi kepadamu.

Bahkan dengan senyum palsuku sekalipun.




Sidoarjo. 15 Mei 2012  02:36
F. Agus Tiono

Kamis, 17 Mei 2012 - 0 komentar

24 September 2011 (GSS Smanita II)

   Hari yang tak pernah terlupakan. Sesuatu hal yang selama ini hanya jadi angan akhirnya nyata menghibur lara dan rindu. Sabtu ini aku bisa bertemu dengan Lianda Dewi Sartika , wanita yang begitu ku sayang. Dan sekarang aku terbawa atas ingatan indah di jam-jam sebelum  aku mengadu ke buku ku. Damai. Itu yang terasa. Duduk berdua bersama memey lalu bercerita  tentang hidup kita masing-masing merupakan suguhan dari Tuhan yang teramat nikmat Untuk aku  seorang lelaki yang terlanjur cinta kepada wanita nan dipuja.
   Berat memang ketika waktu pula yang menyudahi jumpa kami. Padahal tak bosan-bosan ku pandang putih mulus wajahnya
:membusai kagumku. Dan ketika aku rebah di kasur lelap, sejenak aku mengucap keluh cinta. "memey, kapan kau merasakan cintaku di hatimu?" mungkin saat ini engkau belum merasakan apa yang aku rasa. Namun aku tetap melalui ini semua dengan mengalir apa adanya.
Dan berduru-duru harap suatu saat entah kapan, seorang Lianda Dewi Sartika telah bisa mencintaiku setulus hati seperti aku mencintainya.
Rabu, 16 Mei 2012 - 0 komentar

24 September 2011 (GSS Smanita I)

Di lembaran tengah bukuku. Ada bendera kecil yang ditempelkan di pipi memey saat GSS di SMAN I Taman, dia juga sempat menempelkan bendera itu ke pipiku sambil tersenyum polos. Aku masih ingat kejadian itu :). Masih ada loh sampai sekarang di bukuku bendera itu. 
Memey juga menggambar kelinci kecil yang sedang mengunyah wortel.
Waktu itu aku memang sengaja menyuruh dia untuk menuliskan sesuatu di buku itu. Tapi kata memey " Aku Bingung, Kak... "
masih tetap dengan lagat polosnya.Jadi mungkin karena itu, dia putuskan untuk menggambar kelinci tadi dan tiga nama anjingnya, Juga hal-hal yang disukainya.

Oh iya, dia juga menuliskan nama lengkapnya di balik sampul bukuku :
Lianda Dewi Sartika
Aku juga yang menyuruhnya, karena aku rasa, Tak adil jika aku selalu menulis tentang dia di bukuku tapi dia tak pernah sedikit pun menulis sesuatu disitu :).
- 0 komentar

17 September 2011 (Dia Dan Tuhan)

sebuah lagu dari peterpan (tentang kita) mengawali tulisan ini. Mendendangkan hati yang terlanjur diselimuti rindu akan sosok wanita indah nan jauh disana. Berbondong rasa yang sudah tak bisa dijabarkan. Hanya fantasi yang bisa aku ajak main seolah kau ada disampingku.
Oh kasih...
Cinta memang begitu nista. Sepenggal kalimat pun tak mampu menjabarkan rasa rindu kepadamu yang menjadi abdi
. Akankah waktu dapat mengantarkan kita ke dalam goa yang panjang dan mentari menjadi penerang kita diantara sela-sela goa? Dan mungkin kita bisa melewati  goa yang panjang itu atas pita-pita cinta yang terikat.
Oh kenapa kau tega mengutukku Dewi cinta?
Sekonyong-konyong aku pun pasrah terhadap apa yang ditakdirkan oleh Sang Raja semesta. Karena hidup adalah sebuah anugerahNya yang sunnguh nikmat, sekalipun pahit yang terasa.
Karena dalam kepahitan akan timbul berasa manis diakhirnya.

Terimakasih Tuhan.
- 0 komentar

8 September 2011 (Tentang Malam Yang Di Hadiahkan Memey)

         Kali ini nampak rembulan yang mengeluarkan sinar putih sempurna dilangit hitam. Memang malam ini terasa sunyi tanpa adanya bebintang dan bayu malam yang biasa temani memalamku. Ah sial... saat-saat seperti inilah yang membuat pikiranku mengenang seseorang . Seseorang yang belum tentu mengenangku. Selalu, tiap tentangnya menghantui asmaraku yang tak berkesudahan ini. Ia memang wanita hebat, bisa membuat hatiku berlayar pada suatu yang indah nan pesona. Tapi kenapa aku tak bisa menjamahnya? serupa fatamorgana. Dan jika boleh meminta, harusnya aku tak pernah bertemu dengan dia. Sebab auraku meredup atas tulus perasaan ini. Dimatanya mungkin aku lelaki biasa yang aneh, tapi dimataku dia adalah sosok wanita berambut panjang yang wajahnya bersinar fajar surgawi, sehingga aku ingin membelai rambut indah itu.
Malam telah usai dan berajak pagi. Mataku masih menganga rasa kantuk belum berbisik. Dan sepertinya aku terbius oleh pagi yang membuat bayangan dia masuk ke ubun-ubun :merangsang memori lalu, menumpah menjadi tulisan.



                        Tuhan memang Agung. Menitiskan sebuah rasa cintaku untuknya. " Tapi aku juga ingin dicintai oleh wanita yang begitu tulus ku cintai". Benar, aku memang seorang penyair yang belum pernah merasakan hal itu. Walaupun sebenarnya ada wanita yang mencintaiku. Tapi, sayang perasaan yang sama tak pernah mengalir di hatiku. Maaf, aku memang lelaki yang tak mudah mencintai kaum hawa. Setahu hatiku, terakhir kali aku mencintai  seorang wanita lembut berparas duhai. Wanita itu memey, dia wanita yang aku maksud di alinea pertama. Mencintainya termasuk anugerah Tuhan yang maha dahsyat. Hati bak serasa melayang layaknya merpati putih yang terbang mencari pasangannya  di musim kawin.
          Aku sudah gila karena cintaku sendiri. Cinta yang di munadzatkan hanya untuk satu wanita (meme). Dan malam ini aku bercita. Suatu saat nanti entah itu kapan, Bila Tuhan berkehendak. Aku ingin di setiap malamku tak hanya di temani bulan, bintang, bayu malam dan sebatang rokok yang membara tapi juga disampingku, keberadaan dia menemani serta  menjadi selimut sebagai penghangat memalamku.








- 0 komentar

6 September 2011

Memey, malam ini aku masih menulis tentangmu dalam sajak
Memey, malam ini aku mengenangmu.
bukan karena duka.
Tapi entah, aku pun tak tahu apa yang kurasakan?

Aku berfantasi menggambar daksamu di otak
dan menuliskannya ke hati.
Serupa malam yang dihadiahi semilir bayu.
Seperti pagi yang dikerlingi fajar kehidupan dari dahi bebukitan.

Memey, aku masih menemukan putih wajahmu menyelimuti mataku.
Memey, aku lihat kau masih acap menikmati kebasahan.
Tapi aku tahu kau selalu membungkusnya dengan lembut hijaumu.
Maka, jadikanlah aku ular
yang menjaga padang rumputmu dari tikus-tikus bergigi iblis.
Membiasmu lewat suara-suara derikku
dan kau pun bisa tersenyum menari bebas di atas indah padang hijaumu sendiri.
- 0 komentar

Selamat Ulang Tahun

      Dalam sore aniaya debu dalam pekat jalan berbatu.Ini tawa punya siapa? tentu kau yang punya.
Tertawa, mey. Dalam peluk orang-orang terkasih.
Canda, mey. bukankah senja adalah waktu yang teramat indah untuk menangis?.
Sangat diyangkan bukan!
       Selamat ulang tahun, mey. Tawa dan doa seorang kawan. Untukmu, mey. Agar tiada lagi duka. Ini aku, kawanmu. Lewat sebuah kata yang bukan sajak. Untuk mengucapkan selamat.
             Selamat ulang tahun, Lianda Dewi Sartika
Setiap duka, pasti punya pemberhentian.







Kawanmu.

F. Agus Tiono
- 0 komentar

Aku Memilihmu !

Mey, dunia selalu mengutuk bedebah sepertiku. Yang tak tahu diri mencintaimu. Namun sialnya cinta tanpa mata, yang dalam hal ini aku memilihmu. Mungkin kau berpikir untuk apa, juga sebaliknya aku yang juga berpikir, untuk apa menunggu cinta yang mustahil untuk datang.
Maka kutulis sajak ini untukmu :

Aku selalu membayangkan,
kita rebah dalam dingin yang jalang melihat bulan bersamamu.
Aku selalu membayangkan,
kau bahagia dalam mimpi yang mesti bukan untukku.

Duhai jalang malam-malam yang tak kunjung hujan.
Angin menghapus bara mataku yang sembab karena kesedihan asa
yang mesti patah, sebab cinta sering terlambat datang.
Dan kenyataannya,
kau tak pernah memilihku.

Duh kasih terkasih-kasih
layla dalam angan tentang majnun
lelaki yang diracun duka tualang.
Tuhan tak berencana menyatukan Cinta yang bukan dalam ikatan pita-pita takdir.


Sudah tidurkah kau sayang?
ini sajak mesti mendayu-ndayu merayumu
:perempuan yang muskil ku dapatkan.





2011
F. Agus Tiono
Minggu, 13 Mei 2012 - 0 komentar

Untuk kalian yang merindukan masa lampau & orang-orang terkasih

Sang raja siang beranjak ke peraduannya, menuju singgasana yang jauh disana. Sebentar lagi Dewi malam pun datang untuk binari malam. Dengan terangnya mengindahkan gelap. Lalu bebintang serta tuk menghias. Dan sekarang senja telah bisa aku nikmati. Semilir bayu sore menerkam kulit ari. Damai. Ditambah dengan suara lelayangan bunyi, bak suara-suara surgawi yang mendesis di selubung telinga. Oh, nikmat kuasa Tuhan. sungguh tak ada yang sebanding mahaNya. Malam menjadi-jadi dengan sepinya. Dimana aku merenung, mengilhami betul hidup. Tak lama tetesan bening jatuh dari kedua kelopak mata yang terlanjur sendu. Oleh sebab penyesalan" Andai saja Dia Almarhum (Yang teramat ingin aku berjumpa) masih Tersenyum di bumi pertiwi ini. "Perasaan tak kuasa membendung duka. Padahal keyakinanku telah mantap untuk tidak meneteskan kebasahan. Tapi bukankah Laki-laki adalah seorang manusia juga? Ah, ditambah roda kehidupan  ini. Semakin tak kuasa saja pada keputusasaan. Tapi mengapa harus seperti ini, Toh hidup hanya sebentar. Maka hidup yang tersisa ini sebaiknya biarkan  saja berjalan seperti apa yang sudahdi isyaratkan Tuhan.

Atas kerinduanku terhadap masa lampau, Orang-orang terkasih,  Dia Almarhum (Yang teramat ingin aku berjumpa) Dan semua keindahan yang ada pada kehidupanku.  


kalimat kecilku untuk kalian yang membaca catatan ini :

" Untuk kalian yang pernah ditinggalkan orang-orang terkasih
dan juga masa lalu kalian yang begitu indah. Sekarang yang harus kalian lakukan adalah, tetaplah tersenyum menikmati hidup ini dan mensyukurinya. Percayalah. Suatu saat nanti masa lalu yang indah itu akan datang lagi  di masa depan kalian nanti.Jadi tetaplah tersenyum, tersenyum dan tersenyum :) "









 
Dalam lelangutku, Sidoarjo September 2011
 
F. Agus Tiono
- 0 komentar

2007

Tahun 2007 masih menjadi tahun yang teramat di kenang. Sampai sekarang masih teringat jelas saat-saat indahnya. Nama Chandra Dwi Eiera Prayogo adalah salah satu hal yang membuatku selalu mengingat tahun itu. Betapa tidak. Dia adalah cinta pertamaku  ketika aku masih duduk di ruang kelas X-5 SMAN 1 Taman. Apalagi beberapa hari yang lalu aku sempat singgah ke beranda rumahnya, sekedar untuk menghilangkan pusa lelangutku kepada dia. Chandra. Ah, cantikmu masih saja terlihat di kornea rabunku. Sungguh can, kau memang cantik. Ayu wajahmu tak mengalahkan kecantikan hatimu, yang buatku jatuh cinta padamu. Tapi sialnya kau bukan milikku lagi .
Kala aku mengingat saat kapan kita pernah menjalin pita-pita cinta, aku selalu merasa lelaki paling bodoh di dunia. Kenapa aku pernah meludahimu? Mengapa juga aku pernah menembuskan peluru duri ke hatimu. Yang mungkin sampai saat ini, luka itu masih terasa. Dan bahkan mungkin kau tak berniat untuk menjahitnya, sebab tak ingin ada bekas lagi yang begitu nampak.

Maafkan aku
Maafkan aku, sayang.
Maafkan aku yang dulu.
Sekarang seperti inilah aku.
Menyeringai lambaian sapu tangan,
Mengilhami kepergianmu.
Dalam hati yang duka.


Sudahlah. Tuhan yang tahu betapa tulus cinta ini pada wanita tersayang.
Aku mencintaimu, seperti dulu kau pernah mencintaiku.







Sidoarjo. 7 Januari 2012
F. Agus Tiono
Sabtu, 12 Mei 2012 - 0 komentar

Berjumpa Memalamku

Sepasang burung menari indah saat senjaku yang perlahan perlina, bersama sang raja siang yang kembali keperaduannya.







Sidoarjo. 4 Oktober 2011
F. Agus Tiono
- 0 komentar

3 Oktober 2011

LIANDA DEWI SARTIKA !





Sidoarjo. 3 Oktober 2011
F. Agus Tiono

- 0 komentar

Dewi Bulan Di Desember

Sinar-sinar di sisinya bak cahaya mata indah yang dipancarkan bidadari. Ya. Saat ini memang dewi bulan begitu membaswaranya menyinari semua. Menghadirkan kehidupan memalamku. Cahaya kuning nan indah diantara langit menghitam mengalahkan pandanganku pada pohon natal berhias lelampu wana-warni di berandaku. Sungguh kuasa Tuhan.
Sungguh malam yang sunyi.
Sungguh malam Yang indah.
Dan Sungguh,
serta merta dewi bulan mengingatkanku pada Lianda Dewi Sartika.
Dewi bulanku sendiri.







Beranda Rumah. 13 Desember 2011
F. Agus Tiono
- 0 komentar

Pesanmu

Pesanmu :
"Seandainya bisa aku akan menangis dan mengeluarkan segala kesedihanku di pelukanmu."

Aku hanya bisa membalas :
"Jika Aku tak berada di sampingmu sekarang, maka saat ini kau hanya perlu meneteskannya dalam hati. Serukan namaku di hatimu sebagai orang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus. Maka  sukmaku akan melayang menemanimu untuk mengusap air mata di hatimu"


Malam yang menggembirakan namun kesedihan pula untuk aku yang mengetahui wanita tercintanya mengalami kebasahan. dan sialnya aku tak ada saat dia membutuhkan. Aku memang cinta dengan dia. Tapi aku pun tak ingin mengalami kebasahan nan iris nantinya.
Tuhan kau maha tahu, maka jadikanlah kita satu jika kita memang berada pada garisnya. 







Sidoarjo. 22 Oktober 2011
F. Agus Tiono
- 0 komentar

Jika Aku Bertemu Denganmu Di Pagi Ini

Pagi menyapaku dalamdalam mengantarkan jauh tentang memorimu.
Binar fajar yang telah mengerlingi daksa, bangunkan dari mimpi istana indahmu.
Embun bak semilir bayu menghantarkan sanubari
:Serasa udara pagi nan menusuk relung kalbu.
Seolah tahu ingin membawaku bias kepadamu. 





Sidoarjo. September 2011

F. Agus Tiono
- 0 komentar

Hanya Angan Untuk Sekarang

Aku lelaki yang tak punya apa-apa.
Bergantung pada hati yang tulus.
Menenggelamkan pahit, :mengais embun dari kabut pagi sebagai doa untukmu.
Bebintang ada untuk temani bulan tapi siapa lagi yang akan temani daksa ini, jika hati meminta dirimu?
Datang kasih, datang kepadaku.
Sambut jemariku dan rengkuh jiwaku.
Bergeliatlah kita di tiap memalam.
lalu bersekutu membangun istana cinta.








Suatu Malam Di Tahun 2011
F. Agus Tiono
- 0 komentar

Menjadi

Jika yang kau puanya adalah padang hijau.
Maka aku punya mentari, yang tiap saat menghangatkanmu.

Jika yang kau punya adalah padang hijau.
Maka aku punya hujan, yang membasahimu air kehidupan di tiap tetesnya.

Dan, jika yang kau punya adalah padang hijau.
Izinkanlah aku menjadi rusa, satu-satunya mahkluk hidup yang bisa merasakan keindahanmu serta melengkapinya.






Suatu Hari Di Tahun 2011

F. Agus Tiono
- 2 komentar

Nafasku Menjadi Doa Yang Dimunadzatkan Hanya Kepadamu

Hampir aku tak bisa menulis lagi.Menghiasi lelembar kertas dengan coretanku.
Memang benar hanya lewat engkau ku bisa dapatkan imajinasi ataupun inspirasi.
Meskipun ku korek-korek otak Mencari secuil katakata duhai.
Namun semua percuma.
Percuma tanpa adanya bayang jiwamu.
Kasih, Kau dengar bisikku?
Dan aku pun bingung untuk siapa aku menulis.
Karena Aku tak lagi pernah merasa cinta, Hanya kagum semata terhadap sosok wanita.








Driyorejo, Gresik. 19 Juli 2011
F. Agus Tiono
- 0 komentar

Masih Kau

Tak pernah, sesekali menatap gambar diam seorang wanita hingga mengabadikan. Ah, dia memang penyair dalam sajak-sajakku. Namanya selalu ada dalam tiap lembar hvs ku. Tentang dia, acap kali singgah dalam khayalan. Itu kau Mey.
Apa kau pernah menyadari ?
Sosok yang pasti jadi penerang inspirasi selain secangkir kopi dan asap rokok, dalam  sajak membungkus harapan. Semua membebani. Menghadirkan sejuta melodi lantunan penyair. Gairah terbit ungkapkan simbol hadirmu. Nafsu bagi pecintanya .
Memey, ikan masih bebas  berenang mengolokmu di laut. Lihat ikan-ikan itu mey, lihat!. Percaya, senyummu tetap terulang lagi. Walaupun telah sang surya singgah keperaduan, Kabutku akan terus membusai Rohmu.







Taman. 22 Februari 2011
F. Agus Tiono
- 0 komentar

Menjelang Pagi. 02:30

Masih saja, dingin kesunyian
Meratapi kesendirian yang menjadi saksi
Sejarah .

Kerumun laron dalam binar
Menertawai kegelapan
Juga kerling burung hantu yang acap kali
bersembunyi pada malam yang menebal .

Di sini,
Sejuta mimpi yang cuma tentang mu
Meski perlahan dedaun gugur meninggalkan ranting .

Adakah Musim semi nanti,  Mey ?
Dalam setiap dingin kemudian .









Warkop Kletek, 22 Februari 2011
F. Agus Tiono
- 0 komentar

Selamat Hari Valentine

Kau yang baru saja melintas dalam ingatanku,
Karena kau pula yang menghadirkan.

Semua hanya tentang ilusi
walaupun acapkali memori itu selalu menusuk sukma, menerjang batin.

Kini namamu hanya ada pada lembaran-lembaran HVSku
tersusun indah dalam sajak
tertata apik di bait-bait syairku.









Sidoarjo. 14 Februari 2011
F. Agus Tiono
- 0 komentar

Sejarah Mencatatmu

Sejarah mencatat. Cinta bukan hanya selembar selaput dan darah yg keluar pagi-pagi. sebab aku menulis sejarahku sendiri. Sebab cinta itu cinta. Aku adalah Si Jalang yang tak pernah tidur sore. Sebab Aku tak lagi punya rumah. Mereka bilang aku Anak Hilang . Sedangkan Aku tak pernah peduli, menangis, atau menyesali. Sebab Aku telah  lupa bagaimana cara menangis.
APA AKU TAK LAGI PUNYA HATI ?
          Dari kelembutan hijaumu. Dan gambar diam yang menemani setiap Malamku,  maka ku temukan  diriku. Pria malang yang belajar mengenal " APA ITU HATI ". Mey , sejarah boleh mencatat bila kelembutan mahkota dan kehormatan adalah segalanya. Tapi Aku menulis sejarahku sendiri . Dan bagiku cinta lebih mulia dari apapun.
Mey , cinta itu keagungan  rasa yang dianugerahkan oleh Tuhan pada setiap manusia . Mungkin karena itu Aku selalu menghargai nya. Sehingga keputusanmu adalah segala-galanya. Kalau keputusan itu adalah kebahagiaanmu. Maka lakukan. Kejar , Mey kejar cinta yang membuatmu bahagia. Sebab senyummu adalah segala-galanya. Sekalipun paling tidak  untukku sendiri. Sekalipun kau telah berlabuh pada sebuah dermaga yang tak mungkin kau tinggalkan. Tak apa , Mey. Cinta itu pembebasan.
Sudahlah! Kupikir Kita sama-sama sudah dewasa untuk menerima kenyataan. Maka melangkah saja. Tanpa luka, tanpa tangis dan penyesalan.

Salam hangat , Mey.
Semoga kehangatan selalu memelukmu.









Surabaya , 7 Februari 2011  / 03:15
F. Agus Tiono
- 0 komentar

Sebelum Lelap Ku

Sebelum ku memejamkan mata dan melupakan segala penat, risau, dan kebahagiaan di jam-jam sebelumnya. Sebelum pagi ini datang. Kutliskan sepercik angan dalam sebuah buku dengan pena cerita dan tinta-tinta ketulusanku.
" Berharap pagi ini akan lebih baik setelah aku membuka mata dari tidurku yang terlampau batas.
Kini dalam hayalku, hanya ingin dan masih berharap tuk sepenggal kasih dan cinta dari dirinya.
Entah, mengapa kau serta larut dalam benak ini yang seharusnya tak ada sesajak atau sebaitpun tentangmu dalam penulisanku?

TUHANKU NAN AGUNG. MENGERTILAH, AKU SUNGGUH MENCINTAINYA.
Pintaku, lindungilah dia selalu dan berkatilah kasih dan cinta dariku setulusnya melewatiMU, untuk dirinya. "



Suatu Ketika Di Pagi Jumat. 4 Februari 2011 03:00
F. Agus Tiono


- 0 komentar

Hujan kala Sore

Mengilhami setiap tetes hujan dengan adanya kau di sisiku ..
Indah, sungguh nikmat anugerah Tuhan .
Tetes demi tetes hujan membasahi kalbu memeberikan aroma yang khas.
hembusan angin pun serta menyejukan hati kita .
ingin aku terlelap bersamamu dan tak pernah bisa keluar dari waktu ini!

Sayang ku,
Tahukah kau, betapa hujan ini yang buat hati ku basah kuyup?

Tapi,
tahukah kau ??
Bahwa hanya engkau yang sanggup meghangatkan hatiku kembali, dengan api-api cintamu.









Sidoarjo. 31 Januari 2012
F. Agus Tiono   
- 0 komentar

Kamis yang Indah (PERTAMA BERTEMU)

Hari ini, aku melakukan aktifitas seperti biasanya. Tapi hari ini sangat berbeda. kamis 13-Januari-2011 pukul 15:30.
Pertama kali aku bertemu dengan dia. Akhirnya, terima kasih Tuhan. Cantik, baik, lugu, sopan, juga tidak sombong. Kesan pertama kali aku bertemu. Tak sampai terpikirkan aku bisa bertemu dengannya. "Tuhan, sekali lagi terimakasih".


JANJIKU PADAMU :

Satu harapanku. Jika memang dia pengganti kekasihku izinkanlah dia tuk mejadi kekasih baruku. Karena kau telah menghadiahkan kembali indahnya jatuh cinta, seusai berpisah dari mantan kekasihku terdahulu.
Aku berjanji, jika kelak aku bisa memiliki dia aku tak akan menyakitinya, seperti yang dilakukan oleh kekasihnya dulu. Kan aku jaga selalu dia, aku tak ingin kehilangan orang yang
sangat aku cintai untuk yg kedua kali. Sungguh perih rasanya, bertahun-tahun rasa itu menghujam hidupku.
Namun. Sekarang rasa itu kian hilang
semenjak aku bertemu dengan dia, Gadis ayu.








Sidoarjo. 13 Januari 2012
F. Agus Tiono   
- 0 komentar

Kenangan Cinta Tulus

Aku tak akan mencari-carimu lagi di dalam serat hatimu
Aku tak bisa terlalu banyak berharap kepadamu lagi
mungkin sampai disini, aku mengenalmu.
Aku tau kau sungguh mencintainya
namun yang tak pernah kau tau,
bahwa AKU BEGITU MENCINTAIMU!

Aku ikhlas memikirkanmu walaupun kau tak pernah memikirkanku.
Aku tulus  kepadamu meskipun kau tak pernah tau ketulusanku.
Aku rela menitihkan air mata hanya untukmu seorang.

Biarkan cinta yang tulus ini aku simpan dalam kenangan dan hatiku.






Taman. 15 Januari 2011
F. Agus Tiono
- 0 komentar

PERIHKU

Semenjak mengenalmu aku bertingkah layaknya orang gila
aku malas melakukan aktifitasku seperti biasa.

Tapi, semua itu percuma setelah aku pikir-pikir
kau tak pernah ingin tau perasaanku ..
aku menyesal telah mengenalmu
karena kau  telah buat luka lagi di hatiku
dan kau telah buat perih di dalam cintaku ini

selamat tinggal !.






Taman. 14 januari 2011
F. Agus Tiono
Senin, 07 Mei 2012 - 0 komentar

Menjemputmu Di Februari

Aku akan menjemputmu di Bulan Februari nanti. Ketika semi menuai dua hati bertali yang di pertemukan. Mengibasmu dengan parade-parade rindu yang lama ku kandung.
Tak sejumput ragu bergeming, jikala takut terlantar pada gerbang-gerbang tinggi kepercayaan.
Barang kali masih tersisa aroma mawar kuning di berandamu,
bolehkah aku menggantinya dengan sepasang bunga tulip?
Lalu, kuletakkan pada kolam penuh berisi tangis lalumu. Dan kita duduk berdua memandang harap membiarkan liar tulip itu mekar baswara
:menghisap habis tangis lalu dengan senandungnya.
Duhai wanita terayu.
Di lambung kisah kita masih berputar segelumit kenangan manis. Meski aku tahu setan-setan kecil berusaha mengemas binal semua.
Tenang. Tenang sayang, aku masih pintar dan juga lelaki yang tetap tulus mencintaimu.
Maka kan kujaga kenangan itu sampai nanti kisah baru akan hadir menghias.


Aku akan menjemputmu di Bulan Februari nanti. Ketika semi menuai dua hati bertali yang di pertemukan. Sebelum fajar menguntit senjamu.







"Terutuk Cinta Pertamaku.
Puisi ini kukirimkan kepada dia, mantan kekasih (cinta pertamaku di Tahun 2007)
, dengan setangkai mawar juga. Di hari ulang tahunnya 6 Mei ini"
Sidoarjo. 25 Januari 2012
F. Agus Tiono