Tak pernah, sesekali menatap gambar diam seorang wanita hingga mengabadikan. Ah, dia memang penyair dalam sajak-sajakku. Namanya selalu ada dalam tiap lembar hvs ku. Tentang dia, acap kali singgah dalam khayalan. Itu kau Mey.
Apa kau pernah menyadari ?
Sosok yang pasti jadi penerang inspirasi selain secangkir kopi dan asap rokok, dalam sajak membungkus harapan. Semua membebani. Menghadirkan sejuta melodi lantunan penyair. Gairah terbit ungkapkan simbol hadirmu. Nafsu bagi pecintanya .
Memey, ikan masih bebas berenang mengolokmu di laut. Lihat ikan-ikan itu mey, lihat!. Percaya, senyummu tetap terulang lagi. Walaupun telah sang surya singgah keperaduan, Kabutku akan terus membusai Rohmu.
Taman. 22 Februari 2011
F. Agus Tiono
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar