Malam ini sebegitu terasa lamanya bukan?
Ah.. aku tahu, jam demi jam yang tiap detiknya berdetak membosankan ini, kau pasti belum merasa kantuk, atau bahkan tidak tidur sama sekali.
Jadi kenapa tidak kau baca saja surat dari seorang aku ini.
Hai, apa kabar kawan, bayangan suka duka yang dulu senantiasa temani?
Sudah banyak sekali kejadian-kejadian yang tak kualami denganmu, ketika jarak jadi sekat antara kita.
Aku, disini, mati-matian memperjuangkan hidupku sendiri, sementara kau juga sedang memperjuangkan hidupmu yang entah dikejauhan sana.
Malam ini aku jadi rindu denganmu, mengamati bara api dari rokok yang aku bakar. Aku rindu sekali menikmati sebatang surya joinan bersamamu, sembari mencumbui bibir gelas berisi pekat kopi pada suatu malam yang sederhana. Mengajarkan kebersamaan.
Menyikapi kebersamaan kita. Kekompkan adalah perihal-perihal chemistry yang tak sengaja kita pamerkan. Contoh halnya pada saat kita berdua pergi nongkrong bersama, banyak yang mengira kita ini kembar (padahal tidak, kembar siam kali). Juga tak sedikit pula teman-teman lain yang mengatakan bila iri dengan persahabatan kita. (Tuhkan kita keren!)
"Woi, apa lw kagak kangen gw? saat-saat kita nakal bareng, nyender bareng, maboklah, jamming bareng, keliling kota naik scooter, join rokok, ngopi, menikmati malam beriringi musik reggae sambil nangkring diatas rumah, atau ngecengin cewek-cewek disana, nampanglah, dapat cabe-cabean ini juga kaga masalah.
Ah banyak deh, yang pasti segala hal konyol yang sudah lama tidak kita jalani."
Mosok kon, nggak kangen aku, cuk?
Oh iya aku sampai lupa karena begitu emosinya dimakan kenangan.
"Tos dulu ah!" Sekarang kita kan sedang bertemu dalam surat ini. Masih ingat bukan selalu ada sepasang telapak kita yang saling bertepukan dalam pertemuan maupun perpisahan. Iya perpisahan!
Tapi tidak dengan perpisahan diawal tahun ini, suatu kejadian yang menyebabkan aku pergi dan kau berlalu menyisakan tangis, sepeninggalan tragedi itu. Entahlah aku tak mau mendalami betul sebab karenanya pertengkaran kita.
Apa karena harta? Aku rasa tidak, kami bukan saudagar kaya dari seberang seperti kebanyakan di cerita-cerita .
Lalu apa tahta? Sepertinya bukan, kita berdua hanya seonggok daging bernyawa yang cuma ingin kebebasan.
Lantas, apa karena wanita? Ah.. Sudahlah. Menjancukan sekali jika membahas soal wanita yang berhasil mengkambing hitamkan dua pria tampan dan kece macam kita ini. Ha Ha Ha... Bukan, bukannya aku sedikit mengalihkan pembicaraan, aku sekedar ingin membuang pahit yang telah usai berhembus mengendus.
Soal siapa yang benar dan salah diantara kita, aku tak tahu menahu. Yang aku tahu ini semua adalah cobaan Tuhan untuk menguji sebetapa kencangnya ikatan pita-pita persahabatan yang terjalin.
Bila dalam sejarahku sendiri tidak ada lagi yang namanya kelam, sebab kehadiran bagianmu sebagai bayangan suka dukaku. Maka biarkan aku menjabarkan kalimat maaf dalam surat ini.
Maaf, maafkan aku kawan, Iha Fredudiardi (Moo).
Dari aku teman lamamu dulu, Latte.
Bekasi, 15 September 2015 | 02:30
Rabu, 16 September 2015 -
kabar dari teman
0
komentar
kabar dari teman
0
komentar
Surat Maaf Berserta Rindu Untuk, Iha Fredudiardi (Moo)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar